Pendakian Gunung Batur

Sebelum melakukan pendakian ke gunung Batur ada baiknya teman-teman mengenal gunung Batur terlebih dahulu.

Gunung batur merupakan gunung api aktif dalam rangkaian cicin pengunungan pasifik . Keindahan kaldera gunung ini beserta warisan budaya disekitar kawasan gunung Batur menjadikannya destinasi pariwisata Bali serta telah diakui dunia sebagai global geopark oleh UNESCO.

Memang tidak salah mengatakan bahwa Gunung Batur adalah geopark (taman bumi) dunia. Pemandangan landscape geologi yang memukau terutama kaldera , danau batur dan ekosistemnya yang menawan serta warisan adat istiadat penduduk di sekitar menjadikan gunung yang berlokasi di Kintamani Bangli ini menjadi destinasi utama wisata Bali.

Gunung Batur yang memiliki ketinggian 1.717 m dpl, berada pada posisi geografi 8o 14,30’ Lintang Selatan dan 115o 22,30’ Bujur Timur masuk dalam wilayah Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

Sejarah geologi terbentuknya kaldera gunung batur membutuhkan waktu yang cukup panjang. Diperkirakan gunung batur purba merupakan gunung yang lebih tinggi dibandingkan dengan gunung Agung.

Berikut adalah gambaran kaldera gunung batur.

image

Gunung Batur terdiri dari tiga kerucut gunung api dengan masing-masing kawahnya, Batur I, Batur II dan Batur III.

Batur I
Batur I cukup menyejukkan mata dengan pemandangan danau batur yang indah.

image

Batur II
Sebagian besar pendaki berlomba-lomba mencari Batur II karena pemandangan sunrise tampak sangat indah.

image

Batur III
Batur III merupakan tantangan tersendiri . Cukup berbahaya karena lereng kawah yang curam.

image

Vegetasi Gunung Batur
Vegetasi gunung Batur terdiri dari tumbuhan perdu cemara dan tumbuhan endemik pegunungan yaitu edelwis

image

image

Transportasi menuju gunung Batur
Angkutan umum sangat jarang ditemui sehingga sebagian besar pendaki atau wisatawan yang menuju kawasan ini cenderung menggunakan kendaraan pribadi.

Dari Denpasar kalian menuju penelokan Kintamani. Dari sana kalian menuruni jalanan yang cukup terjal dan curam sehingga mencapai basecamp pendakian.

Jalur Pendakian

Jalur pendakian dimulai setelah kalian sampai basecamp nya. Ada dua basecamp yang pertama di pos pendakian  resmi dan basecamp pura jati. Bila anda ingin mendaki secara gratis lewatlah dari basecamp pura jati. Hemat.. :mrgreen::mrgreen::mrgreenSedangkan di basecamp resmi, untuk pendaki lokal diwajibkan membayar iurab masuk sebesar 10 ribu rupiah saja. Untuk pendakinliar kalian bisa bernego untuk mencari pemandu agar lebih mudah dan tidak tersesat.

Jalur pendakian cukup mudah. Jalur umum yang gampang dicapai dan sering dilewati. Pendakian batur memang favorit bagi pendaki lokal maupun mancanegara.

Jalur pendakian di dominansi oleh pasir dan batu. Tingkat kemiringan pun tidak begitu curam menuju puncak I. Setelah mencapai puncak I kalian harus menuju puncak II . Menuju puncak II adalah jalur pasir dan lebih curam. Disinilah best moment kalau kalian mau melihat sunrise indah dengan pemandangan danau batur, gunung agung dan gunung abang.

Tidak lengkap bila tidak mencoba puncak III . Puncak III jarang didaki oleh wisatawan karena jalurnya yang lumayan terjal dengan kawah di kanan kirinya. Harus hati-hati bila melewati puncak ini. Dari puncak III kalian akan turun langsung ke puncak I sambil memandangi danau batur yang indah.

Wajib setelah turun gunung

Setelah turun gunung ada satu kewajiban yang harus kamu lakukan lagi yaitu “mandi air panas atau hot spring”. Pemandian ada dua disini yaitu batur geoprak yang dikelola oleh penduduk setempat dan toya devasya. Setelah capek mendaki makanya relaksasi dengan air panas dijamin badan kembali sehat dan bugar.

Selain pemandian air panas yang wajib dilakukan adalah makan ” mujair nyat nyat ” khas kintamani. Ada satu warung yang saya rekomensasikan tempatny tidak jauh dari basecamp. Untuk nama warungnya saya lupa yaa.. sepertinya tidak ada nama dari warung ini. Nanti tanya dengan penduduk sekitarnya saja ya teman-teman🙂

Jangan Melakukan ini !!

Semakin banyak yang mendaki, semakin banyak ternyata sampah yang dibuang sembarangan si gunung. Tidak semua pendaki adalah pecinta alam. Sebagian  besar adalah orang-orang yang kurang bertanggungjawab.

Selain sampah yang berserakan, masalah lainnya adalah kegiatan pencabutan bunga dan tumbuhan lainnya. Terutama yang saya maksud adalah edelwis. Sekitar 6 tahun lalu saat saya mendaki disini masih banyak saya temukan bunga cantik ini. Namun sekarang? Saya bahkan hampir menelusuri bebatuan untuk sekesar melirik . Ternyata banyak yang memetik bunga ini padahal ada larangan keras.

Saya saya sedih mendapati bunga ini hampir mati dengan tangkai mengering.

Bagaimana bisa setega itu mereka memetiknya. Membiarkan dia mati dan tidak berkembang. Mungkin beberapa tahun lagi saya tidak akan melihatnya lagi atau anak cucu saya kelak tidak dapat melihatnya.

Tolong teman-teman semuanya jangan merusak keindahan alam kita. Mari kita jaga bersama ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s