Filosofi babi

Masyarakat Bali sangat identik dengan Babi. Babi adalah salah satu hewan yang diternak oleh masyarakat Bali. Penduduk pedesaan sebagian besar memelihara hewan ini. babi merupakan hewan peliharaan yang disayangi. Persembahan secara tulus ikhlas kepada Tuhan merupakan bentuk bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa ( Tuhan ) . 

Setiap upacara baik itu Dewa yadnya , manusa yadnya sampai pitra yadnya tidak bisa terlepas dari babi. Babi menjadi sarana upakara. Mengapa babi?

Babi adalah hewab omnivora. Apakah babi itu kotor atau tidak suci? Babi kotor dan tidak suci karena apa? Bukankah setiap mahluk di dunia ini ciptaan Tuhan?

Berfilosofi tentang babi saya memikirkan satu hal. Bila dalam agama hindu babi diibaratkan sumber tamas atau kemalasan maka manusialah yang membunuh nya. Sumber segala kemalasan dan keburukan. Jadi mengorbankan babi dalam upakara diibaratkan seperti membunuh dan mengorbankan keburukan dalam diri manusia dan diharapkan hal-hal baik akan datang. 

Ajaran agama hindu mengajarkan bahwa setelah kehidupan saat ini akan ada kehidupan di masa berikutnya atau sebelum kehidupan kita saat ini ada kehidupan sebelumnya yang dikenal dengan punarbhawa atau reinkarnasi. Dalam lontar durga dewi yang menjelaskan mengenai ulam banten, disebutkan bahwa persembahan babi dalam upakara dipercaya oleh masyarakat hindu bali dapat meningkatkan derajat kehidupan mendatang. Maksudnya disini adalah diharapkan dikehidupan mendatang ( reinkarnasi )  hewan ini ( babi ) menjadi makhluk yang lebih tinggi derajatnya. 

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s