Trend dan Issu Biofeedback pada Kegel Exercise

APa itu Kegel exercise??

  Kegel Exercise

Latihan Kegel diciptakan oleh  seorang dokter kandungan bernama Arnold Kegel pada tahun 1940. Dr Kegel pertama kali mengembangkan latihan ini untuk membantu wanita sebelum dan setelah melahirkan. Selanjutnya latihan ini juga dapat digunakan dalam membantu menangani stress inkontinensia urine yaitu pengeluaran urine tidak terkontrol akibat bersin, batuk, tertawa atau melakukan latihan jasmani. Latihan kegel bermanfaat untuk melatih otot dasar panggul yaitu rangkaian otot dari tulang panggul sampai tulang ekor. Latihan kegel merupakan latihan dalam bentuk seri untuk membangun kembali kekuatan otot dasar panggul. Otot dasar panggul tidak dapat dilihat dari luar, sehingga sulit untuk menilai kontraksinya secara langsung. Oleh karena itu, latihannya perlu benar-benar dipelajari, agar otot yang dilatih adalah otot yang tepat dan benar. 

 Apakah  Biofeedback???

Dr Arnold Kegel,  seorang dokter kandungan, menggunakan perangkat umpan balik tekanan di akhir 1940-an untuk mengajarkan pasien bagaimana memperkuat otot-otot yang mendukung kandung kemih dan organ panggul lainnya. Kemudian latihan Kegel diadopsi oleh orang lain di bidang medis sebagai sarana meningkatkan kontrol kandung kemih, walaupun sering tanpa manfaat biofeedback. Seiring dengan perkembangan teknologi , maka saat ini telah dikembangkan kembali penggunaan biofeedback yang dikombinasikan kegel exercise.

Biofeedback adalah sebuah metode untuk memberikan individu dengan informasi tentang tubuh mereka. Biofeedback adalah suatu bagian dari prosedur terapeutik yang menggunakan instrumen- instrumen elektronik untuk mengukur, memproses dan memberikan umpan balik dengan tepat kepada pasien dan pemberi terapi . Informasi psikologi penting karena memberikan pendidikan dan memperkuat informasi mengenai kondisi normal dan abnormal neuromuskular dan aktivitas otonom dalam bentuk analog, binary, sinyal audiotori maupun visual.

Terapi biofeedback dapat dianggap lini pertama pengobatan untuk inkontinensia stress dan inkontinensia campuran,  inkontinensia fekal, paradoks kontraksi puborectalis, nyeri panggul, dan bentuk lain dari disfungsi dasar panggul.  Pada tahun 1989, National Institutes of Health Konsensus Konferensi  untuk inkontinensia urin pada orang dewasa menyimpulkan bahwa prosedur yang kurang invasif seperti perawatan biofeedback harus menjadi pengobatan lini pertama untuk pasien dengan berbagai jenis inkontinensia. Selain itu, Badan Kesehatan Kebijakan dan Penelitian yang merekomendasikan intervensi perilaku sebelum bentuk-bentuk lain dari perawatan pada pasien dengan riwayat stres, mendesak, atau inkontinensia campuran setelah evaluasi dasar juga melakukan promosi penggunaan biofeedback dalam kombinasi  melakukan kegel exercise.

A.      Manfaat Kegel Exercise dengan Kombinasi Biofeedback

Latihan kegel sangat bermanfaat untuk menguatkan otot rangka pada dasar panggul, sehingga memperkuat fungsi sfingter eksternal pada kandung kemih. Latihan otot dasar panggul ini diperkenalkan oleh Kegel untuk pasca melahirkan. Latihan ini terus dikembangkan dan dilakukan pada lansia yang mengalami masalah inkotinensia stress dan inkontinensia urgensi. Dr Esperanza McKay melaporkan pada sebuah konferensi tentang penyakit vulvovaginal disponsori oleh Baylor College of Medicine bahwa latihan kegel yang teratur dapat juga membantu mencegah masalah seperti prolaps organ pelvis, inkontinensia tinja serta penurunan respon seksual pada pria dan wanita. Latihan Kegel dan biofeedback bisa memperbaiki fungsi otot panggul, memberikan bantuan yang signifikan dari rasa sakit vestibulitis vulva, dan, dalam banyak kasus, memungkinkan pasien untuk terlibat dalam aktivitas seksual yang normal.

Kombinasi kegel exercise dengan biofeedback  membantu pasien lebih yakin, percaya dan meningkatkan proses psikologi dalam pengontrolan secara sadar terhadap otot- otot dasar panggul. Kombinasi ini tanpa disertai dengan persiapan kognitif, instruksi dan pemandu terapi tidak akan memberikan hasil yang sesuai harapan. Penelitian yang dilakukan oleh Shepherd menemukan hasil yang signifikan mengenai kombinasi latihan kegel dengan biofeedback. Hasil penelitian tersebut memperlihatkan kombinasi latihan kegel dengan biofeedback meningkatkan keberhasilan penatalaksanaan inkontinensia urin sebesar  91 %  dibandingkan kelompok kontrol tanpa biofeedback yaitu sebesar 55 %. Penyempurnaan biofeedback saat ini, dapat sekaligus memonitor kontraksi dan relaksasi otot dasar panggul dan otot abdomen. Bahkan biofeedback dapat digunakan di rumah sebagai latihan pasien inkontinensia.

  1. B.       Penatalaksaan Kegel Exercise dengan Kombinasi Biofeedback

1)        Mengenali dan Persiapan

Beberapa jenis latihan kontaksi otot dasar panggul perlu dikenali. Lakukanlah sendiri sebelum melatih pasien.

a)        Latihan 1

Bayangkan, anda ingin buang angin dan lakukan seolah-olah anda menahan agar tak terjadi buang angin. Akan terasa, otot dasar panggul bergerak, bokong dan otot paha tidak bergerak, kulit sekitar anus berkontraksi dan seolah-oleh anus “masuk” ke dalam.

b)       Latihan 2

Bayangkan, anda duduk di toilet untuk buang air kecil. Hentikan arus pancaran miksi, tahan dan lepaskan lagi. Latihan ini disebut “STOP TEST”. Latihan agak sulit untuk dikerjakan karena tekanan dari suprauretra lebih besar. Pada prakteknya, lakukan stop test pada ½ perjalanan pancaran miksi, stop, relaksi selesaikan miksi.
Mungkin anda hanya berhasil mengecilkan deras aliran miksi, hal ini berarti otot dasar panggul memang lemah. Setidaknya otot yang dilatih sudah benar. Bila aliran miksi semakin deras, berarti otot yang berkontraksi tidak benar, artinya yang berkontraksi bukan otot dasar panggul. Latihan tak boleh sering dilakukan, sukup satu kali sehari saja.

c)        Latihan 3

Berbaring terlentang, dengan kedua lutut fleksi dan terpisah melebar. Bayangkan, seseorang mencoba menusuk dengan jarum tumpul pada area parineal. Tanpa menggerakkan tungkai, tanpa “masuk” ke arah tubuh untuk menghindari “tusukan imajiner” tersebut. Bila gerakan benar, maka kulit sekitar anal mengkerut dan masuk. Untuk memastikannya, letakkan telunjuk pada perineum, kontraksikan otot dasar panggul, terasa prenium bergerak menjauhi jari. Dan bila relaks, jari akan tersentuh prenium kembali.

d)       Latihan 4

Dengan posisi berbaring seperti latihan 3, letakkan satu jari di area tulang ekor, sedangkan jari lain pada area tulang pubis. Pada waktu kontraksi otot dasar panggul, terasa gerakan kedua jari tengah, atau berarti tulang ekor dan tulang pubis bergerak saling mendekat.  Bila ke-4 latihan tersebut dikerjakan dengan benar dan pasien serta anda tidak ragu lagi, maka tahap latihan dasar dapat dilakukan.

2)        Program Latihan Dasar

Kontraksi otot dasar panggul dilakukan dengan melakukan gerakan baik secara cepat maupun lambat:

a)        Cepat : Kontraksi-relaks-kontraksi-relaks-dst

b)        Lambat : Tahan kontraksi 3-4 detik, dengan hitungan kontraksi 2-3-4-relaks, istirahat-2-3-4, kontraksi-2-3-4 relaks-istirahat-dst.

c)        Latihan seri gerakan cepat disusul dengan gerakan lambat dengan frekuensi sama banyak. Misalnya, 5 kali kontraksi cepat, 5 kali kontraksi lambat. Latihan ini pun dikerjakan pada berbagai posisi, yaitu sambil berbaring, sambil duduk, sambil merangkak, berdiri, jongkok, dll. Harus dirasakan bahwa pada posisi apapun otot yang berkontraksi adalah otot dasar panggul.

d)       Jangan harapkan keberhasilan akan segera muncul, karena otot dasar panggul dan otot sfingter yang lemah, serta tak biasa dilatih, cenderung cepat lelah. Bila keadaan letih (fatig) tercapai, maka inkontinensia akan lebih sering terjadi. Oleh karena itu perlu dicari titik kelelahan pada setiap individu. Caranya, dilakukan dengan “trial and error”.

e)        Lakukan kontraksi dengan frekuensi tertentu cepat dan lambat, misalnya 4 kali atau 5 kali atau 6 kali dan tentukan frekuensi sebelum mencapai titik lelah dan otot menjadi lemah. Yang terakhir ini dapat dites dengan melakukan digital vaginal self asessment (vaginal toucher) yaitu, memasukkan dua jari tangan setelah dilumuri jelly, ke dalam vagina. Coba buka kedua jari arah antero-posterior dan minta pasien melawan gerakan tersebut dengan mengkontraksikan otot dasar panggul. Pada jari pemeriksaan akan terasa tekanan, ini berarti kekuatan otot positif, sekaligus dinilai, kekuatan tersebut lemah, sedang, atau kuat.

f)         Ajarkan kepada pasien agar dia mampu melakukan sendiri digital vaginal self asessment. Bila fasilitas memenuhi, kekuatan otot dasar panggul dapat diukur dengan suatu alat tertentu.

g)        Awali latihan dengan frekuensi latihan kecil, yaitu 3, 4 dan 5 kali kontraksi setiap seri. Frekuensi kontraksi ini disebut dosis kontraksi dasar. Lakukan pada dosis awal, 10 seri perhari, sehingga bila kontraksi dasar adalah 4 kali, maka perhari dilakukan kontraksi 4 cepat, 4 lambat, 10 kali = 80 kali kontraksi per hari. Ingat, tiada hari tanpa latihan. Dosis kontraksi dasar ditingkatkan setiap minggu, dengan menambahkan frekuensi kontraksi 1 atau 2, tergantung kemajuan. Lakukan semua dengan perlahan, tak perlu cepat-cepat. Pada akhir minggu ke IV, sebaiknya telah dicapai 200 kontraksi perhari. Pada awalnya, latihan terasa berat, tetapi kemudian akan terbiasa dan terasa ringan.

h)        Lakukan latihan dimana saja dan kapan saja. Misalnya, saat duduk, berdiri, berjalan, sambil masak, sambil kerja di kantor, sambil mandi, dll. Untuk mengingatkan, buat tanda kecil dibeberapa tempat/barang yang biasa anda pakai/lihat setiap hari. Misalnya stiker bulatan di beberapa tempat. Bila anda lihat tanda tersebut, berarti anda harus mulai latihan kontraksi otot dasar panggul. Bila perlu, minta anggota keluarga untuk mengingatkan anda. Selama melaksanakan latihan, buatlah catatan harian, yang disebut sebagai catatan evaluasi kemajuan.

i)          Bila telah ada kemajuan, tingkatkan jumlah seri perhari, menjadi 12 kali, 15 kali, dan seterusnya. Sebagai target, pada minggu ke 6-8 harus tercapai 300-400 kali kontraksi perhari

3.      Kombinasi Kegel Exercise dengan Biofeedback

Wanita dengan vestibulitis vulva yang dirawat di  rumah sakit dan Manajemen Kesehatan Center di Houston belajar bagaimana menggunakan monitor biofeedback dilengkapi dengan sensor vagina. Mereka kemudian membawa pulang perangkat untuk digunakan sebagai mereka berlatih kegel  dalam upaya untuk memulihkan kekuatan dan nada ke otot-otot dasar panggul.  Dr McKay, seorang dokter biofeedback menjelaskan cara- cara pelaksanaan kegel exercise dengan biofeedback. Adapun langkah- langkahnya adalah sebagai berikut:

a)             Satu jam pertama, setiap pasien dan keluarga menerima penjelasan rinci tentang anatomi dan fisiologi panggul, termasuk otot-otot dasar panggul. Kemudian dilanjutkan dengan mengajarkan cara memasukkan sensor vagina dan cara membaca monitor biofeedback, yang mengukur ketegangan di otot pubococcygeus melalui elektromiografi.

b)             Selanjutnya, pasien melakukan latihan dasar kegel seperti di atas dengan pendamping dan instruktur.  Di rumah, pasien melakukan latihan menurut regimen yang ditentukan, biasanya sesi 20 menit dua kali sehari, ketika mencoba untuk mencapai tujuan klinis tertentu, seperti memegang kontraksi minimal 45 V  mikro pada kekuatan bagi 60 detik.

 

  1. C.      Cara Kerja Biofeedback

Semua otot dalam tubuh mengeluarkan sinyal listrik kecil yang dapat dipantau dengan elektromiografi (EMG), biofeedback yang  sering digunakan untuk kontrol kandung kemih dan lainnya masalah otot panggul. Sensor kecil  dari perangkat biofeedback yang didekatkan dengan otot yang dipantau akan mendeteksi dan merekam kegiatan listrik.  Selanjutnya informasi yang dikumpulkan oleh EMG akan memberikan pengetahuan langsung mengenai otot-otot yang dideteksi. Informasi hasil pemeriksaan kemudian oleh pasien dengan inkontinensia urine  digunakan untuk merencanakan program latihan pribadi untuk meningkatkan kekuatan dan daya memegang otot-otot yang mengendalikan buang air kecil. Pemantauan otot panggul dicapai dengan menggunakan sensor kecil karena tidak semua pasien merasa nyaman dengan sensor yang sama, aktivitas otot panggul dimonitor dengan salah satu dari dua jenis sensor.

Ada 2  jenis  sensor yang digunakan dan keduanya efektif, sensor tersebut adalah sebagai berikut:

v  Bagi wanita sensor tampon kecil dapat ditempatkan dalam vagina, selain itu terdapat juga sensor yang lebih kecil yang tersedia bagi pria dan diletakkan tepat di dalam anus. Pasien dapat memakai sensor ini dengan tetap berpakaian secara lengkap.

v  Beberapa pasien memilih sensor ekternal yang cocok bagi pasien usia lanjut dan anak- anak. Sensor ini mirip dengan elektroda  EKG yang dipasang pada permukaan kulit dekat dengan anus.

Setelah sensor berada di tempat, terapis biofeedback menghubungkan sensor ke komputer. Komputer mengubah aktivitas listrik dari otot-otot menjadi sinyal yang bisa dilihat pada layar komputer. Sinyal dapat dilihat sebagai garis berwarna bergerak di layar atau bar yang bergerak naik dan turun sebagai otot-otot tegang dan rileks. Kadang-kadang terdengar nada menyertai sinyal.

DAFTAR PUSTAKA

Maryam,Siti.R.dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba Medika

Macready, Norra. 2003. Biofeedback dan Kegels dapat Mengurangi Rasa Sakit Vestibulitis: Meningkatkan Fungsi Otot , ( online ) ,  ( http://www.nafc.org ), diakses 9 April 2011

Nugroho, Wahyudi . 2001. Perawatan Lanjut Usia Edisi 2. Jakarta : EGC

Setiabudhi, Tony. 2001. Panduan Gerontologi Tinjauan Dari Berbagai Aspek Menjaga Keseimbangan Kualitas Hidup Para Lanjut Usia Edisi 2. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Stanley, Mickey dan Beare, Patricia. 2006 . Keperawatan Gerontik Edisi 2. Jakarta : EGC

Williams dan Wilkins. 2002. Latihan dengan Terapi Biofeedback, ( online ), (http://journals.lww.com), diakses 9 April 2011

2 thoughts on “Trend dan Issu Biofeedback pada Kegel Exercise

  1. anehnya di film american pie, latihan kagel sampai bisa buka tutup botol pakai vagina. soalnya ada perempuan yang masukin botol ke bawah roknya terus ngelipet slangkangannya, eh tutupnya kebuka. gak mungkin kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s